Di ajukan Oleh:

Nama                           : M. AFRIZAL AZIZ. S.Pd

NIP/ NUPTK              : 5558769670130033

Sekolah                       : SMK MUHAMMADIYAH 1 METRO

Kabupaten/ Kota         : KOTA METRO Provinsi     : LAMPUNG

BAB I PENDAHULUAN

1.      Latar belakang

Bimbingan dan Konseling merupakan salah satu ilmu yang memiliki peran yang sangat penting dalam lingkup pendidikan seperti sekolah. Bimbingan dan Konseling yang selalu berfokus pada perkembangan siswa inilah yang diharapkan dapat membuat atau mengarahkan siswa agar mampu untuk melewati masa atau tugas perkembangan psikisnya dengan baik. Pengkajian perkembangan siswapada Bimbingan dan Konseling itu sangat bervariasi, misalnya pengkajian suatu kenakalan remaja yang timbul itu tidak hanya dikaji berdasarkan masalah yang timbul dpermukaan melainkan dari berbagai aspek yang mempengaruhhinya seperti sejak kapan kenakalan itu muncul? mengapa kenakalan itu muncul? bagaimana kehidupannya dilingkungan masyarakat? Sampai hingga pemberian alternative pemecahan masalah tersebut kepada siswa.

Hampir semua gejala masalah yang timbul pada remaja merupakan hal yang sangat cocok untuk dikaji dalam bimbingan dan konseling dengan prosedur penanganan yang tepat. Untuk itu perlu adanya GURU BK KEREN (Kompetitif, Edukatif, Responsif, Nyenengin) yang hadir untuk mendorong siswa berfikir kreatif dan kritis terhadap masalah yang timbul pada dirinya dan mampu mengambil tindakan yang mandiri untuk mengkonstruksi tindakan tersebut menjadi suatu pemecahan masalah yang terjadi pada dirinya.

Demi tercapainya hal tersebut di suatu lingkup dimana guru BK sudah terkenal sebagai “School Police” atau polisi sekolah maupun pihak “Judge” pihak yang menghakimi siswanya, maka Guru BK harus memiliki strategi khusus agar “Mindset” tersebut dapat berubah menjadi Guru BK adalah “Best Friend Student” yang hadir ditengah-tengah mereka. Untuk merubah “Mindset” tersebut maka guru BK harus menguasai berbagai hal tidak hanya kurikulum, evaluasi, proses, pedagogic kepribadian, sosial, profesional, namun Guru BK harus KEREN (Kompetitif, Edukatif, Responsif, Nyenengin).

Guru BK dalam melaksanakan tugasnya selain membantu, memotivasi, dan memberi penyelesaian dalam masalah yang ada pada dirinya, Guru BK harus mampu memberikan

penguatan dan membuat terobosan terobosan baru mengikuti perkembangan era modernisasi demi tercapai visi misi sekolah maupun bimbingan dan konseling serta mampu menginspirasi mereka.

Motivasi saya mengikuti OGN ini tidak lain adalah untuk menjadikan image Guru BK yang tadinya dianggap “Police School” oleh kalangan banyak menjadi “Counselor is Best Friend Student” dan menjadi Guru BK yang berkualitas dan menjadi tempat inspirator para siswa. Dengan adanya OGN ini juga dapat bertemu dengan berbagai Guru BK terpilih dari berbagai daerah sehingga saya berharap dengan bertemu orang yang terpilih tersebut banyak ilmu baru yang bisa saya dapatkan dari mereka untuk pengembangan suatu konsep baru yaitu Guru BK KEREN.

Selain itu yang menjadi salah satu alasan saya mengikuti OGN ini adalah keinginan dan tekad kuat menjadikan Guru BK yang sebenar-benarnya BK bukan BK yang hanya terkenal sebagai “Police School” maupun “Counselor is Judge” dan sudah mendarah daging di pemikiran semua pihak. Dengan tekad dan keinginan itulah yang memberi semangat saya untuk menjadikan hal yang selama ini dianggap tidak mungkin tersebut menjadi suatu hal baru yang nyata bukan sekedar pemikiran yang tanpa realisasi dan tindakan nyata. Hal ini saya serukan karena saya ingin menunjukan eksistensi saya sebagai Guru BK yang ingin menjadi Guru BK yang bermartabat dan professional dalam pelaksanaannya.

Akhirnya saya berharap dengan keikutsertaan saya dalam OGN ini dapat mewujudkan GURU BK KEREN (Kompetitif, Edukatif, Responsif, Nyenengin) untuk menghadapi perkembangan siswa di era modernisasi melalui pendidikan karakter di sekolah dimana saya mengabdikan ilmu.

2.      Visi, Misi, Tujuan, dan Strategi Kerja

  1. Visi

Visi saya sebagai guru BK ialah menjadi GURU BK KEREN (kompetitif, Edukatif, Responsif, Nyenengin) untuk persiapan menghadapi perkembangan siswa di era modernisasi melalui pendidikan karakter.

b)     Misi

Adapun misi saya untuk mewujudkan visi saya adalah:

  1. Meningkatkan keprofesionalan guru BK
    1. Melaksanakan tugas dan fungsi sebagai guru BK sesuai Kode etik BK dan peraturan yang berlaku
    1. Mendidik dan membimbing siswa dengan sepenuh hati.
  • Meningkatkan prestasi kerja dengan berbagai hal

c)      Tujuan

Tujuan yang sangat ingin capai sebagai guru BK adalah sebagai berikut:

  1. Menjadikan saya sebagai Guru BK KEREN ( Kompetitif, Edukatif, Responsif, Nyenengin) melalui berbagai kegiatan yang mendukung
    1. Meningkatkan kemampuan guru BK dalam pelaksanaan tugas nya sesuai dengan tugas dan Fungsi yang sebenarnya.
    1. Mengubah Mindset/ pemikiran siswa yang salah tentang guru BK
    1. Menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter disetiap pelaksanaan tugas BK

BAB II KAJIAN TEORI

  1. Pengertian Bimbingan dan Konseling

Dalam dunia pendidikan Bimbingan dan Konseling memiliki pengertian yang luas karena banyak para ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang pengertian Bimbingan dan Konseling.

  1. Definisi Bimbingan

Dalam pendefinisian bimbingan para ahli bimbingan dan konseling memberikan atau mengartikan bimbingan berbeda-beda. Secara garis besar bimbingan merupakan suatu bantuan yang diberikan kepada individu. Sedangkan Erman Amti (2004: 99) berpendapat bahwa Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Sejalan dengan itu Sementara Bimo Walgito (2004: 4-5), mendefinisikan bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya.

  • Definisi Konseling

Konseling memiliki arti yang luas. Banyak para ahli yang menjabarkan pendapatnya tentang pengertian konseling. Seperti yang dikemukakan oleh Tolbert, dalam Prayitno 2004 : 101 bahwa Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antarab dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar.

Sejalan dengan pendapat diatas, Jones (Insano, 2004 : 11) menyebutkan bahwa konseling merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien. Hubungan ini biasanya bersifat individual atau seorang-seorang, meskipun kadang-kadang melibatkan lebih dari dua orang dan dirancang untuk membantu klien memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya, sehingga dapat membuat pilihan yang bermakna bagi dirinya.

Jadi dari pendapat yang dikemukakan para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan konseling adalah suatu bantuan yang diberikan kepada klien atau individu

yang memiliki masalah atau tidak memiliki masalah agar klien atau individu tersebut mampu mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya secara optimal dan mampu melalui tugas perkembangannya dengan baik.

  • Pengertian KEREN ( Kompetitif, Edukatif, Responsif, Nyenengin)

Sesuai dengan judul pembahasan dalam artikel ini maka penulis akan menjabarkan tentang apa itu GURU BK KEREN.

  1. Kompetitif

Pengertian kompetitif secara singkat adalah suatu yang berkaitan dengan kompetisi. Secara luas dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa: Edisi ke IV) bahwa kompetitif ialah a. berhubungan dengan kompetisi (persaingan); , bersifat Kompetisi (persaingan).

Dalam hal ini yang dimaksud kompetitif adalah Guru BK harus mampu berkompetisi. Kompetisi yang dimaksud adalah guru Bk harus mampu bersaing dengan tantangan kemajuan modernisasi dan teknologi agar dalam pelaksanaan tugas bimbingan dan konseling guru BK tidak Buta teknologi dan tertinggal jauh terhadap kemajuan modernisasi karena banyak aplikasi yang berbasis teknologi yang muncul yang harus kita pelajari agar kita semakin mudah dan professional dalam pelaksanaan tugas BK. Kompetitif akan mendorong Guru Bk untuk terus bersaing mengikuti perkembangan modernisasi melalui berbagai pelatihan dan pendidikan yang menunjang kinerjanya.

  • Edukatif

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi IV) memiliki arti sebagai berikut: 1. Bersifat mendidik; 2. Berkenaan dengan pendidikan. Sejalan dengan itu hal serupa juga dijelaskan oleh dalam Kamus Bahasa Indonesia Lengkap ( Bintang Indonesia) bahwa Edukatif memiliki arti bersifat mendidik, berkenaan dengan pendidikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa Edukatif merupakan suatu hal yang berhubungan dengan pendidikan dan mendidik seseorang.

  • Responsif

Responsive selalu dikaitkan dengan sikap cepat tanggap terhadap sesuatu situasi dan kondisi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi IV) menjelaskan bahwa responsive memiliki arti : cepat (suka) merespon, bersifat menanggapi, cepat tanggap, tergugah hati, bersifat member tanggapan (tidak masa bodoh). Sejalan dengan itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Lengakap (Bintang Indonesia) menerangkan bahwa Responsif memiliki

arti: cepat (suka) merespon; bersifat menanggapi; tergugah hati; bersifat memberi tanggapan (tidak masa bodoh).

  • Nyenengin

Kata nyenengin bisa disamakan dengan kata menyenangkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi IV) menyatakan bahwa nyenengin (menyenangkan) memiliki arti: 1. Menjadikan senang, membuat bersuka hati; 2. Membangkitkan rasa senang hati, memuaskan, menarik (hati); 3. Merasa senang (puas, dsb) akan menyukai.

Sejalan dengan itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka) menjelaskan bahwa Nyenengin (menyenangkan) memiliki arti menjadikan senang; menyukakan hati; menimbulkan rasa senang; menarik hati; memuaskan. Jadi dapat disimpulkan bahwa nyenengin (menyenangkan) memiliki arti sesuatu yang berkaitan dengan suasana hati seseorang yang timbul akibat merasa puas akan suatu hal.

  • Pendidikan Karakter

Salah satu agenda atau cita-cita bangsa Indonesia yang digagas oleh Presiden Indonesia adalah Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Gerakan ini dalam pelaksanaannya ditujukan disetiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara salah satunya adalah melalui dunia pendidikan. Dunia pendidikan dianggap tujuan yang paling strtegis dalam penerapan karena dunia pendidikan memiliki system yang tersebar dan terintegritas dari bawah sampai pusat. Pendidikaan berbasis karakter (pendidikan karakter) digagas dalam dunia pendidikan karena melalui dunia pendidikan inilah generasi muda yang dipersiapkan dalam mencapai tujuan bangsa akan datang akan direvolusi mental dan pola pikirnya dengan penguatan pendidikan karakter (PPK) yang didalamnya terkandung implementasi nilai- nilai seperti:

  1. Religious
    1. Nasionalis
    1. Mandiri
    1. Gotong-royong
    1. Integritas

Nilai-nilai tersebut yang akan menjadi fokus pembelajaran, pembiasaan, dan pembudayaan, sehingga pendidikan karakter bangsa sungguh dapat mengubah perilaku, cara berpikir dan cara bertindak seluruh bangsa Indonesia menjadi lebih baik dan berintegritas. Dengan begitu maka SDM kita akan menjadi lebih siap dalam menghadapi tantangan modernisasi dan kemajuan global sehingga kita memiliki daya jual dipasar dunia luar.

BAB III PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Guru BK KEREN (Kompetitif, Edukatif, Responsif, Nyenengin)

Dalam pembahasan ini yang dimaksud dengan BK KEREN adalah sosok guru bimbingan konseling yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang memadai dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. Hal ini sesuai dengan yang sudah dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dimana dalam UU sisdiknas disampaikan pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya dan menegaskan bahwa konselor adalah pendidik. Dalam undang- undang tersebut terselip suatu paragdima yang harus dilaksanakan yaitu membangun suatu kebiasaan yang didalamnya tercangkup suatu pemberian keteladanan, pembangunan kemauan dan pengembangan kreativitas dalam konteks kehidupan sosial kultural sekolah.

Sejalan dengan itu dalam pelaksanaannya guru Bimbingan dan Konseling harus dilaksanakan dengan professional oleh orang yang   ahli   dibidangnya   sesuai   dengan UU No.14/2005 tentang Guru dan Dosen yang secara eksplisit menekankan perlunya profesionalisme kedua jenis pendidikan itu. Perlu adanya tuntutan tersebut dimaksudkan agar tujuan awal untuk mewujudkan pendidikan karakter dapat terlaksana dengan baik.

Namun dalam pelaksanaannya Bimbingan dan konseling terdapat banyak hambatan. Hambatan tersebut sebenarnya merupakan masalah klasik dan sudah mendarah daging bagi hampir seluruh pemikiran orang. Masalah tersebut tidak lain adalah tentang pemikiran “Mindset” Bimbingan dan konseling adalah polisi sekolah “Police of Scholl” dan Bimbingan konseling adalah juru eksekusi dan tempat mengadili “BK is Judge n Law”.

Persepsi itu sampai saat ini menjadi kendala dalam perwujudan dan pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai Guru Bimbingan dan Konseling. Apalagi Bimbingan dan Konseling dalam program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) memiliki peran yang sangat sentral dan strategis karena Bimbingan dan Konseling berkaitan langsung dalam pemantauan perkembangan siswanya. Diharapkan Bimbingan dan Konseling disini menjadi garda terdepan dalam penguatan karakter siswa yang mencangkup nilai Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong-royong, dan integritas.

Dari penjelasan diatas maka dapat dijadikan suatu alasan penulis untuk mengagas pemikiran untuk menjadi GURU BK KEREN (Kompetitif, Edukatif, Responsif, Nyenengin).

Disini yang dimaksud guru BK KEREN adalah guru yang secara kompetensi memiliki kualifikasi dan ketrampilan yang mumpuni serta menambah nilai lain dalam pelaksanaannya seperti Kompetitif, Edukatif, Responsif, dan Nyenengin. Aspek ini lah yang penulis gagas agar kedepannya BK dapat menjadi BK yang sebenarnya sesuai dengan tugas dan fungsinya dan mampu menjawab tantangan era modernisasi dengan menjadikan generasi penerus bangsa yang Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong-royong, dan Integritas.

Penulis menggagas BK KEREN ini bukan tanpa alasan, melainkan karena melihat realita dilapangan yang menunjukan bahwa selama ini Guru BK bukan menjadi BK yang sebenarnya melainkan menjadi sosok yang menakutkan bagi para siswanya. Alhasil BK beralih fungsi menjadi eksekutor. Selain itu pendidikan karakter yang sedang digencarkan pemerintah melalui dunia pendidikan sekarang ini dimaksudkan untuk mempersiapkan para generasi muda yang mampu bersaing di era modernisasi dan kemajuan teknologi tanpa melupakan aspek Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong-royong, Integritas. Penulis mendukung gerakan pemerintah tersebut dengan mengimbangi dengan menggagas BK KEREN agar realisasi nyata segera menghadirkan hasil nyata.BK yang selalu bergelut dengan dunia pendidikan dengan focus para remaja ini diharapkan dapat ikut andil dalam program ini. Focus program ini terletak pada remaja karena selain remaja menjadi harapan bangsa kedepan dan juga masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju arah kedewasaan yang rentan akan provokasi negative. Selain itu remaja menjadi focus program pemerintah untuk revolusi mental dikarenakan pada masa ini masa dimana banyak timbul kesan dan pesan untuk golongan remaja ini, seperti yang diutarakan oleh Andi (1982: 11) bahwa:

  1. Sebagian orang menganggap remaja adalah sekelompok individu yang mengalami perjalanan hidup yang biasa saja, karena akan menjadi orang dewasa yang wajar sesuai dengan kodratnya, maka tidak perlu dipermasalahkan, kalau masa itu berakhir akan mencapai kedewasan.
    1. Segolongan orang menganggap remaja sebagai kelompok individu yang sering melakukan pelanggaran, menyusahkan orang tua maupun orang lain disekitarnya.
    1. Sekelompok orang menganggap remaja itu sekelompok individu yang dijadikan contoh generasi anak-anak dan wajib menolong/ membantu anak-anak maupun orang dewasa dan tua.
    1. Remaja yang sedang tumbuh kembang itu mempunyai potensi-potensi, maka orang menganggapnya dapat dimanfaatkan sebagai generasi bangsa. Remaja berkewajiban meneruskan perjuangan bangsa, memelihara budaya dan mengembangkan potensi diri

dan bangsanya, maka harus mendapat perlakuan, pelayanan, agar dapat mencapai tujuan.

  • Menurut sebagian remaja sendiri mereka merasa sebagai individu-individu yang dikesampingkan, diacuhkan, karena orang dewasa lebih memperhatikan generasi anak-anak kecil yang sangat butuh perhatian dan pemeliharaan. Seolah-olah remaja sudah dapat mengurusi dirinya sendiri. Remaja masih ingin/ mendambakan kasih sayang seperti masa-masa lalu.
    • Sekumpulan individu yang terdiri atas para remaja merasa sebagai individu-individu yang mempunyai cara hidup tersendiri, didalam dunia dan tak boleh/ tak dapat dimengerti orang lain.

Bila dilihat dalam GBHN yang dikutip Andi Mapiare (1982; 12) sebagai berikut:

Pengembangan generasi muda diarahkan untuk mempersiapkan kader penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional dengan memberikan bekal ketrampilan kepemimpinan, kesegaran jasmani dan kreasi, patriotism, idealism, kepribadian dan budi pekerti yang luhur. Untuk itu perlu diciptakan iklim yang sehat sehingga memungkinkan kreativitas generasi muda   berkembang secara wajar dan bertanggungjawab. Dalam rangka itu perlu adanya usaha guna mengembangkan generasi muda untuk melihat remaja dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara serta pelaksnaan pembangunan nasional.

Berdasarkan hal itu berarti remaja mendapat perhatian khusus dalam pendidikan dan keikutsertaannya dalam masyarakat karena mereka mereka mmpunyai kewajiban yang harus didukung hak-haknya untuk mempersiapkan diri sebagai generasi yang ada. Dengan potensi yang dimiliki perlu diusahakan untuk menuju perkembangan yang positif untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Seperti yang penulis kutip dalam buku Psikologi Perkembangan oleh Drs. H Abu Ahmadi dan Drs. Munawar Sholeh (2005: 133-135) bahwa terdapat banyak harapan terhadap remaja, antara lain:

  1. Hendaknya para remaja mengusahakan belajar, belajar dengan tekun, agar selekas mungkin dapat menyelesaikan study dan ikut serta dalam pembangunan bangsa dan Negara. Apalagi mengingat betapa besar dan berat persaingan yang dihadapi dalam dunia pendidikan dan masyarakat.
    1. Hendaknya para remaja melakukan kegiatan membaca, banyak membaca literature yang sehat, dan bermutu, guna melebarkan horizon pandangan hidup. Dengan membaca pengetahuan dapat diperluas dan diperdalam, dan pengalaman dapat diperkaya. Kegemaran  membaca dapat merupakan antidote bagi kegersangan dan

kedangkalan yang mereka hadapi karena kegemaran membaca dapat merangsang Self- Development dan  Self- Advancement.

  • Hendaknya remaja memiliki hobi (Hobby). Hobi tidak perlu mahal yang penting hobi itu cukup mengasyikan. Hobi hendaknya jangan merugikan dan pengisi waktu belaka namun harus dikerjakan dengan penuh perhatian dan serius sehingga dapat berkembang menjadi suatu kesibukan atau usaha yang yang dapat memperkaya hidup mereka secara material, sosial, cultural, dan spiritual.
    • Hendaknya para remaja mengerti dan memahami, bahwa tuntutan mereka akan pengertian, pengakuan, dan penghargaan dari orang tua harus diimbangi dengan kewajiban dan tanggung jawab terhadap orang tua dan masyarakat.
    • Hendaknya para remaja memahami, bahwa ada hak , ada kewajiban, ada hak istimewa, ada tanggung jawab atau utang budi, ada kebebasan, ada tanggung jawab.
    • Hendaknya para remaja menyadari bahay narkotika dan menjauhkan diri dari ajakan- ajakan teman yang dapat menyesatkan hidup. Mereka harus dapat menangkis ejekan dari pihak mereka yang telah sesat, dengan keyakinan yang dapat menyadarkan dan mengembalikan mereka ini pada jalan yang benar
    • Hendaknya para remaja berusaha mengerti “keadaan” orang tua masing-masing

Begitu besar harapan yang digantungkan terhadap para remaja kita di era modernisasi ini. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa setiap harapan akan diikuti oleh suatu rintangan dan kegagalan, seperti yang dijelaskan Drs. H Abu Ahmadi dan Drs. Munawar Sholeh (2005: 136-137) bahwa kemungkinan kegagalan terjadi pada suatu remaja dikarenanakan hal sebagai berikut:

  1. Karena kurikulum sekolah memang terlalu berat dan tinggi sehingga melampaui kapasitas belajar anak kita
  2. Karena terlalu banyak tugas yang harus dikerjakan (PR) sehingga kurang tersedia waktu untuk belajar.
  3. Karena banyak waktu digunakan remaj untuk kegiatan ekstrakurikuler atau hobi
  4. Karena anak kurang mampu mengatur waktu atau menggunakan waktu secara efesien.
  5. Karena tidak ada kebiasaan belajar pada anak dan ia kurang mampu mendisplinkan diri.
  6. Karena dari pihak orang tua tidak control atau kurang perhatian atau karena sikap acuh tak acuh terhadap prestasi belajar anak.
  • Karena anak malas belajar, yang mungkin disebabkan oleh penyakit yang belum Nampak gejala nya.
  • Karena tekanan-tekanan emosionalnya, sebagai akibat dari pengharapan-pengharapan yang luar biasa (Over expectation) dari pihak orang tua (disebabkan oleh posisi), atau sebagai akibat dari perkembangan biologis yang dialami anak.
  • Karena merasa tidak diakui, tidak diterima oleh teman-teman

Dari penjelasan diatas dapat kita lihat dan pahami bahwa begitu banyak harapan dan cita-cita yang digantungkan pada remaja. Namun tidak menutup kemungkinan untuk mencapai kesana selalu diiringi oleh tantangan dan kegagalan. Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu adanya Guru BK KEREN (Kompetitif, Edukatif, Responsif, Nyenengin) ditengah-tengah mereka. Kehadiran Guru BK KEREN di tengah-tengah mereka selain untuk mengubah mindset negative mereka tentang BK tapi juga untuk penguatan pendidikan karakter dalam diri mereka guna mengatisipasi segala kemungkinan kegagalan dalam mempersiapkan remaja yang mampu bersaing di era modernisasi.. Apakah BK KEREN itu? Penulis akan bahas secara singkat sebagai berikut:

  1. Kompetitif

Kompetitif selalu dikaitkan dengan iklim suatu persaingan atau kompetisi. Namun persaingan yang dimaksud disini bukanlah persaingan yang menggunakan otot dan kelicikan. Kompetitif yang dimaksud disini adalah suatu persaingan yang dimaksudkan untuk guru Bimbingan dan Konseling agar mampu bersaing dengan kemajuan teknologi, modernisasi, dan kemajuan lainnya yang sesuai dengan tugas dan fungsinya. Guru Bimbingan dan Konseling harus memiliki jiwa kompetitif agar mereka tidak tertinggal jauh akan kemajuan- kemajuan yang ada. Kerena tidak dapat dipungkiri bahwa pergeseran kearah kemajuan setiap detiknya bergeser secara sistematis dan dinamis. Apabila seorang guru Bimbingan dan Konseling tidak memiliki atau bahkan tidak mampu berkompetitif dalam suatu pergeseran kemajuan era modernisasi dan memilih untuk berdiam dan menutup akan hal itu maka kemungkinan terlaksananya suatu harapan dan cita-cita yang ingin dicapai sangat kecil bahkan tidak akan terlaksana.

Tuntutan bersikap kompetitif bagi setiap guru Bimbingan dan Konseling seharusnya bisa diwajibkan karena melihat tanggung jawab dan harapan di pundak remaja sangat berat maka perlunya pendamping yang sesuai dan mampu mengimbangi perkembangan mereka di era modernisasi. Hal itu diperkuat dalam Q.S.ar-Ra’d:11 yang artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Dari penjelasan ayat diatas dapat disimpulkan bahwa setiap guru harus memiliki jiwa kompetitif untuk mencapai tujuan akhir yang diinginkan dengan menjawab semua tantangan perkembangan di era modernisasi. Untuk mencapai itu maka perlu komitmen dan kemantapan niat dan usaha yang nyata untuk menjadi guru yang kompetitif.

  • Edukatif

Edukatif selalu dikaitkan dengan suatu pendidikan baik itu berupa pemberian atau pencontohan suatu tindakan, pembelajaran, atau yang lainnya yang menghasilkan suatu output atau hasil perubahan yang diharapkan baik positif maupun negative. Edukatif dimulai didapatkan seseorang dari dia lahir hingga sepanjang hayatnya. Pemberian pendidikan atau edukatif ini akan menentukan kearah mana suatu karakter seseorang akan mengarah.

Edukatif pada saat ini sangat ditekankan pada pendidikan karakter dan kebiasaan peserta didik. Zona edukatif pada saat ini terletak pada tenaga pendidiknya. Lingkup sekolah yang sangat kecil dan keterbatasan waktu yang dimiliki membuat suatu proses edukatif sangat rentan gagal. Disekolah menggencarkan suatu nilai edukatif dalam setiap proses pendidikan disekolah namun dukungan dari lingkungan keluarga dan masyarakat sangat minim maka rentan kegagalan pembentukan karakter siswa sangat besar.

Situasi atau keadaan seperti inilah yang membuat guru Bimbingan dan Konseling harus lebih ikut andil dalam pelaksanaan misi edukatif tersebut. Tugas dan fungsi Bimbingan dan Konseling yang cukup sentral dalam pemberian dan pembentukan suasana edukatif disekolah selain guru bidang study dan mata pelajaran, maka penekanan guru Bimbingan dan Konseling untuk berlaku sebagai eksekutor edukatif sangat penting. Guru Bimbingan dan Konseling yang memiliki zona atau ranah dan interaksi yang lebih banyak selain wali kelas terhadap peserta didiknya dituntut untuk lebih bisa memberi dan menguatkan nilai-nilai edukatif yang sudah didapat disekolah agar nilai tersebut tidak hilang saat peserta didik lepas dari lingkungan sekolah.

Guru Bimbingan dan Konseling harus ditekankan untuk bisa menjadi eksekutor dalam penanaman nilai edukatif, karena Bimbingan dan Konseling lah yang sangat berpengaruh dan paham jika itu berkaitan dengan remaja (peserta didik). Eksekutor disini adalah sosok utama yang terjun langsung dan sebagai pelaku utama dalam penanaman nilai edukatif. Guru Bimbingan dan Konseling harus bisa memberi dan pemberi contoh peserta didik sebelum

Guru tersebut memberi perintah seseorang untuk melakukan perubahan untuk peserta didiknya tersebut.

Masa remaja adalah masa dimana masih tertanam sikap meniru “Imitasi” dari orang yang dianggapnya idola atau orang yang memberikan pengaruh besar terhadapnya walau sebenarnya sikap meniru “Imitasi” ini sudah bukan menjadi tugas perkembangan dimasanya. Remaja akan bertindak sebagai peniru apa yang dilihatya menarik dan akan melakukannya, maka dari itu pemberian nilai edukatif yang baik perlu ditekankan pada setiap lini disistem pendidikan sekolah. Guru mata pelajaran, guru bidang study, wali kelas, dan tenaga pendidik lainnya harus mampu menjadi panutan dan contoh yang baik untuk peserta didiknya, baik itu sikap, perkataan, dan perbuatan bahkan cara berfikir. Setelah semua lini bisa menjadi eksekutor nilai edukatif maka Guru bimbingan dan Konseling akan menjadi eksekutor yang berperan sebagai figure yang berperan untuk memberi penguatan penanaman nilai-nilai edukatif tersebut kepada peserta didiknya.

Bila dilihat dari sisi kognitif, remaja tergolong kelompok yang mengalami perubahan cara berfikir jika terjadi pertambhan usia. Menurut Piaget dalam buku Perkembangan Anak dan Remaja (69-70) oleh Prof. Dra. Sri Rumini, Dkk (2005) mengatakan bahwa remaja awal cara berfikirnya secara sistematis dan mencangkup logika yang kompleks. Pada umumnya masa remaja awal sikap berfikirnya belum mencapai kematangan. Berfikir yang belum matang ini menyebabkan timbul persepsi dan anggapan bahwa remaja itu tidak sopan, remaja suka melawan dan sejenisnya, remaja menjadi sedih dan marah. Dalam suatu penelitian membuktikan bahwa pola dan cara berfikir remaja yang cenderung mengikuti orang dewasa telah menunjukan kemampuan lebih daya fikirnya. Pada tahap ini remaja menilai benar dan salah terhadap sekitarnya masih dipengaruhi oleh egosentris sehingga dalam membantah kadang kadang tidak menjaga perasaan orang lain.

Dari sedikit penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa peran guru Bimbingan dan Konseling selain menjadi eksekutor nilai-nilai edukatif juga sebagai pelaku sentral dalam penanaman dan pemberian pengarahan atau pelatihan agar anak mampu mengenal pola-pola berfikir orang dewasa.

  • Responsif

Responsive bisa diartikan cepat tanggap atau reaktif. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi IV dijelaskan responsive adalah cepat (suka) merespon, bersifat menanggapi, cepat tanggap, tergugah hati, bersifat memberi tanggapan (tidak masa bodoh). Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa responsive dapat diartikan suatu sikap

seseorang yang cepat tanggap (merespon) semua yang terjadi disekitarnya, baik itu secara direncanakan ataupun tidak direncanakan.

Melihat dan memahami pengertian responsif diatas maka penulis merasa perlu adanya penekanan memiliki sikap responsif pada guru Bimbingan dan Konseling. Sejatinya guru Bimbingan dan Konseling yang secara tidak langsung selalu berinteraksi dengan peserta didik untuk memantau perkembangan mereka dituntut bersikap responsif. Masalah yang timbul pada usia remaja itu sangat kompleks dan perlu penangannan dini agar tidak menghambat tugas perkembangan remaja itu.

Responsif. ditekankan pada guru Bimbingan dan Konseling dimaksudkan agar apapun perkembangan dan masalah peserta didik yang terjadi bisa tercover dan tertangani dengan cepat tanpa ada penundaan. Penanganan dini setiap masalah yang dianggap dapat mengganggu tugas perkembangan remaja dimaksudkan untuk meminimalisir masalah tersebut menjadi masalah yang besar dan memberi dampak negative pada diri remaja tersebut.

Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa responsif wajib dimiliki oleh guru Bimbingan dan Konseling karena melihat latar belakang masalah remaja yang sangat komplek dimulai dari kognitif yang belum matang dan sikap imitasi atau meniru yang masih melekat maka perlunya sikap responsif atau cepat tanggap terhadap perubahan dan masalah sekecil apapun yang terjadi pada diri remaja. Perhatian dan cepat tanggap terhadap perubahan dan masalah yang mulai timbul ini dimaksudkan untuk memberi penanganan dini terhadap perubahan dini yang terjadi agar tidak menimbulkan masalah yang member dampak negative.

  • Nyenengin

Nyenengin merupakan kata simple tapi rumit untuk dilaksanakan. Nyenengin atau menyenangkan ini merupakan hal yang sederhana namun dalm proses pelaksanaannya membutuhkan strategi dan ketulusan hati. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia / KBBI (Balai pustaka: Edisi IV) menjelaskan bahwa menyenangkan memiliki arti sebagai berikut: 1. Menjadikan senang, membuat bersuka hati., 2. Membangkitkan rasa senang hati, memuaskan, menarik (hati)., 3. Merasa senang (puas,dsb) akan menyukai.

Dari pengertian nyenengin/ menyenangkan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diatas maka penulis menyimpulkan bahwa nyenengin/ menyenangkan adalah sikap seseorang dalam menciptakan atau membuat orang lain tertarik kepada kita karena perlakuan, ucapan,kepercayaan, dan lain sebagainya yang kita lakukan kepada orang lain itu.

Penekanan atau perlunya sikap nyenengin bagi guru Bimbingan dan Konseling itu dimaksudkan untuk menjawab atau mengubah cara pandangan para remaja yang salah terhadap guru Bimbingan dan Konseling. Sikap nyenengin dirasa mampu untuk mengubah mindset atau pemikiran para remaja bahwa guru Bimbingan dan Konseling itu bukan polisi sekolah yang hanya menghukum dan mengadili siswa yang salah melainkan bisa menjadi teman bahkan sahabat mereka. Awalnya memang sulit apalagi citra baik Bimbingan dan Konseling yang memang dari dahulu sudah terkenal sebagai juru hukum disekolah. Tantangan itu harus kita jawab dengan tindakan nyata berupa hadirnya Guru Bimbingan dan Konseling yang Nyenengin. Apabila sudah bisa terlaksananya sikap Nyenengin dalam setiap Guru Bimbingan dan Konseling maka citra baik Bimbingan dan Konseling akan kembali bermartabat dan juga Guru Bimbingan dan Konseling akan lebih mudah untuk melaksanakan tugas dan Fungsinya sebagai Guru Bimbingan dan Konseling yang professional.

  • Pendidikan Karakter

Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan ini juga mendapat perhatian besar dari pemerintah karena melalui pendidikan lah Negara ini mempersiapkan penerus bangsa dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu bersaing di zaman era modern yang terus bergerak.

Seperti yang sedang digencarkan pemerintah saat ini yaitu perencanaan pedidikan karakter. Pendidikan karakter kini menjadi salahsatu wacana utama dalam kebijakan nasional di bidang karakter Pendidikan. Seluruh kegiatan belajar serta mengajar yang ada dalam negara indonesia harus merujuk pada pelaksanaan pendidikan Karakter. Hal ini termuat jelas dalam isi Naskah Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan pada tahun 2010 yang menyatakan bahwa pendidikan karakter menjadi unsur utama dalam pencapaian visi dan misi pembangunan Nasional yang termasuk pada RPJP 2005-2025. Sejalan dengan itu UU RI No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan Nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Hal tersebut didukung Pasal 3 UU SIKDIKNAS yang menjelaskan bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan dan membantu watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi, peserta didik agar menjadi manusia yang beriman yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Seringkali kita dituntut untuk menerapkan kemampuan karakter dan menumbuh kembangkan prinsip dalam pendidikan, tetapi pemahaman mengenai karakter secara mendasar belum kita fahami dengan benar-benar.

Pendidikan karakter merupakan aspek yang penting bagi generasi penerus. Seorang individu tidak cukup hanya diberi bekal pembelajaran formal yang didalamnya hanya ada hal intelektual belaka tetapi juga harus diberi hal dalam segi moral dan spiritualnya, seharusnya pendidikan karakter harus diberi seiring dengan perkembangan intelektualnya yang dalam hal ini harus dimulai sejak dini khususnya dilembaga pendidikan. Pendidikan karakter di sekolah dapat dimulai dari tenaga pendidik maupun warga sekolah lainnya dengan cara memberikan contoh perbuatan, sikap, perilaku, perkataan, dan lain sebagainya yang dapat dijadikan teladan bagi murid dengan diiringi pemberian pembelajaran seperti keagamaan dan kewarganegaraan sehingga dapat membentuk individu yang berjiwa sosial, berpikir kritis, memiliki dan mengembangkan cita-cita luhur, mencintai dan menghormati orang lain, serta adil dalam segala hal.

Lahirnya pendidikan karakter bisa dikatakan sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan spiritual yang ideal. Foerster seorang ilmuan pernah mengatakan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah untuk membentuk karakter karena karakter merupakan suatu evaluasi seorang pribadi atau individu serta karakter pun dapat memberi kesatuan atas kekuatan dalam mengambil sikap di setiap situasi. Pendidikan karakter pun dapat dijadikan sebagai strategi untuk mengatasi pengalaman yang selalu berubah sehingga mampu membentuk identitas yang kokoh dari setiap individu. Dari penjelasan diatas maka dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan karakter ialah tidak lain untuk membentuk sikap yang dapat membawa kita kearah kemajuan tanpa harus bertentangan dengan norma yang berlaku. Pendidikan karakter pun dijadikan sebagai wahana sosialisasi karakter yang patut dimiliki setiap individu agar menjadikan mereka sebagai individu yang bermanfaat seluas-luasnya bagi lingkungan sekitar dan mampu bersaing dalam pergeseran era modernisasi. Pendidikan karakter bagi individu bertujuan agar :

  • Mengetahui berbagai karakter baik manusia.
  • Dapat mengartikan dan menjelaskan berbagai karakter.
  • Menunjukkan contoh perilaku berkarakter dalam kehidupan sehari-hari.
  • Memahami sisi baik menjalankan perilaku berkarakter.

C.     Strategi Kerja

Strategi kerja merupakan cara atau langkah yang dilakukan seseorang untuk menggapai suatu tujuan individu maupun kelompok melalui struktur yang jelas. Strategi kerja saya dalam mewujudkan GURU BK KEREN agar layak mendapatkan kesempatan mengikuti dan menjadi wakil OGN adalah:

1.) Belajar melalui berbagai media dan sumber serta menggali informasi dari berbagai narasumbern

2.) Mengintegrasikan pendidikan karakter setiap pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling.

3.) Belajar menjadi Inspirasi dan contoh tauladan bagi siswa.

4.) Mengambil setiap kesempatan yang ada dan diberikan untuk pengembangan keprofesian dan ketrampilan saya dalam mewujudkan GURU BK KEREN (Kompetitif, Edukatif, Responsif, Nyenengin)

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Guru Bimbingan dan Konseling merupakan pekerjaan yang mulia, yang bertugas menyiapkan generasi bangsa yang cerdas dan berkarakter serta responsif selain guru mata pelajaran atau bidang study. Guru Bimbingan dan Konseling berperan sebagai sosok pendukung yang membantu remaja menyelesaikan tugas perkembangannya. Namun tantangan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi guru Bimbingan dan Konseling berupa pemikiran Bimbingan dan Konseling sebagai polisi sekolah. Tantangan itu penulis jawab dengan menggagas suatu gerakan Guru BK KEREN (Kompetitif, Edukatif, Responsif, Nyenengin).

Demi terlaksananya Guru BK KEREN maka guru bimbingan dan konseling harus selalu meningkatkan kualitas dan profesionalisme secara utuh dan penuh tanggungjawab. Guru Bimbingan dan Konseling profesional bukan hanya mampu menghasilkan peserta didik yang cerdas, peserta didik yang berkarakter dan berahlak mulia serta responsif, namun harus dapat membantu tercapainya tugas perkembangan dan potensi mereka secara optimal karena di tangan merekalah bangsa Indonesia ini akan maju.

Selain itu menjadi guru Bimbingan dan Konseling tidak hanya mendidik dan memberi contoh disekolah saja namun juga dimana saja. Melalui proses pendidikan karakter dan pembelajaran yang berkualitas ini melaui gagasan GURU BK KEREN, diharapkan guru mampu memberikan layanan Bimbingan dan Konseling yang optimal pada peserta didik yang diharapkan menjadi generasi emas Indonesia serta masyarakat pada era modernisasi yang terus bergerak maju. Demikian deskripsi diri ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan agar dapat digunakan sebagaimana mestinya. Penulis mohon maaf bila ada kesalahan atau kata yang kurang berkenan di hati pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

Sukardi, Dewa Ketut. 2008. Bimbingan dan Konseling di Sekolah.Jakarta: Rineka Cipta. Ahmadi, abu dan Munawar Sholeh. 2005. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rineka Cipta. Sundari, siti dan Sri Rumini.2004. Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: Rineka Cipta. Budiono, Drs.   .Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Bintang Indonesia Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2003. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Pusat bahasa. 2008. Edisi ke IV. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Al-Qur’an dan Terjemahannya. 2004. Jakarta: Departemen Agama RI

Anonym. Pengertian Responsif. https://konseling.bpkpenaburjakarta.or.id/2-pelayanan- responsif-responsive-services/ (di akses tanggal 22 Januari 2018)

Anonym. Pendidikan Karakter. https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_karakter (di akses tanggal 22 Januari 2018)

Anonym. Pengertian,tujuan, dan fungsi pendidikan karakter. https://www.lyceum.id/pengertian- tujuan-dan-fungsi-pendidikan-karakter/ (di akses tanggal 22 Januari 2018)

 488 total views,  5 views today